Selamat Atas Pengukuhan Prof.Dr.dr.Pradana Soewondo, SpPD-KEMD, Sebagai GURU BESAR Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia



17-03-2014
12th Congress of the International Association for the Study of Obesity (IASO)
Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia

13-11-2013
AFES 2013
The Ritz Carlton Hotel Mega Kuningan, Jakarta, Indonesia

06-09-2013
PDCI GP Cabang Surabaya
Hotel Bisantara Bidakara, Surabaya

01-09-2013
Workshop Astra Zeneca
Surabaya

24-08-2013
Aceh Endocrinologi and Diabetes Update
Banda Aceh

24-08-2013
INSPIRE INTERNIS
Surabaya

23-08-2013
INSPIRE INTERNIS
Banda Aceh

01-06-2013
Jakata Endocrine Meeting 2013

Prolanis
27 December 2011, 10:23:44


Mungkin istilah Prolanis masih terdengar asing di telinga sebagian orang. Prolanis atau Program Penanggulangan Penyakit Kronis adalah sebuah program dari Asuransi Kesehatan (Askes) yang terbilang masih baru. Dalam rapat Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) yang dilangsungkan di Hotel Mulia, Jakarta, pada 21 Mei 2011 lalu, dr. Umbu M. Marisi, MPH sebagai perwakilan dari Prolanis membeberkan lebih jauh berkenaan program tersebut.

Banyak perubahan yang terus terjadi dalam dunia kesehatan Indonesia. Sebut saja penyakit infeksi, sebagai contoh, yang selama dekade terakhir menduduki peringkat pertama namun kini telah digantikan posisinya oleh penyakit degeneratif. Tak diragukan lagi, penyebabnya adalah pelayanan kesehatan yang terus berkembang maju sehingga usia harapan hidup pun kian bertambah. Dan secara tidak langsung, biaya kesehatan turut kena imbasnya.

Beberapa tahun terakhir ini biaya kesehatan terus meningkat. Tidak terkecuali, masalah efektivitas pemakaian dana itu adalah tanggung jawab seluruh lapisan warga, termasuk PT. Askes Indonesia yang selama ini memberikan sumbangsih dalam memelihara kesehatan masyarakat. Jika ditilik kembali, premi sebesar 2% terhitung sangat minim. Hal tersebut tidak sepadan dengan besarnya populasi peserta Askes (57%) yang berusia 40 tahun ke atas dan memiliki risiko tinggi. Ditambah dengan adanya data bahwa 43% orang yang datang berobat ke rumah sakit merupakan penderita penyakit kronis, seperti gastritis, hipertensi, dan diabetes melitus (DM) yang membutuhkan pengobatan berulang. Penanganan jangka panjang terhadap penyakit kronis tersebut tentunya memakan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, pengaturan harus berjalan sebaik mungkin agar premi yang minim tersebut dapat dialokasikan sebaik-baiknya demi pemeliharaan kesehatan para pesertanya.

Setelah melihat keadaan tersebut, akhirnya Askes mengubah haluan strategi penanganan kesehatan. Awalnya penanganan kesehatan lebih banyak berfokus pada kuratif dan rehabilitatif. Namun, sekarang promotif dan preventiflah yang menjadi fokus dari pemeliharaan kesehatan. Untuk merealisasikan keseimbangan antara pelayanan dan pembiayaan itu, Askes menggandeng PERKENI sebagai mitra kerja dalam pelaksanaan Prolanis. Pemilihan PERKENI didasarkan pada alasan bahwa Askes lebih menitikberatkan Prolanis dalam penanganan penyakit DM, sebuah mata rantai dari keahlian klinis para dokter spesialis endokrinologi. Program ini ditujukan sebagai bentuk upaya berjenjang dalam penanganan kasus penyakit kronis, yang melibatkan banyak pihak, misalnya keluarga, dokter di puskesmas, hingga rumah sakit. Sasarannya pun adalah para dokter keluarga sebagai lini pertama pelayanan kesehatan masyarakat. Diharapkan dengan program ini, berbagai pihak, seperti peserta Askes, para dokter, dan Askes sendiri, dapat merasakan manfaat yang besar. Kualitas penanganan peserta Askes dapat meningkat, mutu dan biaya terkendali, kasus berat dapat ditangani. Meskipun demikian, konsep tersebut masih terus dikembangkan hingga saat ini. Baru-baru ini Askes dan PERKENI menyusun sebuah konsep Prolanis untuk puskesmas yang nantinya akan diarahkan ke pelayanan berbasis kedokteran keluarga. Para dokter keluarga selayaknya berpartisipasi penuh dalam program itu. Pencegahan primer, seperti upaya promotif dan preventif, harus terus diupayakan demi aplikasi kedokteran keluarga yang terintegrasi untuk penanganan pasien yang lebih baik.

Langkah awal dari Prolanis telah dijejakkan oleh pihak Askes. Di tahun 2011 ini, Askes telah menyebarkan formulir yang harus diisi oleh pesertanya berkaitan dengan penyakit yang dimilikinya. Setelah itu, akan dilakukan scoring. Pasien yang memenuhi kriteria akan menjalani pemeriksaan kesehatan (medical check-up) terseleksi. Semua penyakit, khususnya DM, yang ditemukan pada peserta Askes akan ditata laksana. Untuk penanganan jangka panjang, peserta tersebut akan dialihkan ke dokter keluarga yang akan memberikan penyuluhan, memberikan obat yang efektif, memastikan pengobatan teratur, memberikan info mengenai klub, serta melakukan pengawasan lebih lanjut.

Saat ini, konsentrasi Prolanis baru pada penanggulangan DM tipe 2. Sehingga program ini lebih dipopulerkan degan sebutan Program Pengelolaan Diabetes Melitus (PPDM). Di masa yang akan datang, program ini akan dikembangkan pada penyakit tidak menular lainnya seperti jantung, hipertensi, dll.

Meski baru seumur jagung, program ini telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Kondisi pasien yang telah ditangani dokter mengalami perbaikan. Hingga saat ini, terlihat bahwa kesehatan masyarakat menuju ke arah yang lebih baik. Namun, nyatanya pelaksanaannya tidaklah semudah apa yang dipikirkan. Prolanis sesungguhnya merupakan sebuah pekerjaan yang banyak dalam jangka pendek dan panjang. Tantangan yang ada saat ini ialah kurangnya partisipasi aktif dari para peserta Askes dan dokter. Demi menanggulangi hal tersebut, diadakanlah kampanye untuk menggalakkan promosi Prolanis pada Juni-Juli 2011. Selain itu, Askes pun sedang giat menggencarkan rujuk balik dari dokter spesialis ke dokter di Puskesmas dan diizinkan menulis resep bagi peserta.

Tak hanya itu, dr. Umbu menyatakan harapan beliau agar PERKENI turut melibatkan dokter puskesmas sebagai dokter Prolanis agar nantinya PERKENI memiliki data yang menyeluruh tentang peserta Askes dan informasi kesehatan mereka. Dengan begitu, penanganan DM yang baik dan terencana dapat digiatkan sejak awal. Risca